#100kata — Kopi

Matanya menatapku tajam dan detak jantungku yang tak beraturan menyebabkan aku harus mengalihkan pandangan. Fokusku kemudian: foam susu di cappuccino yang tengah kuminum.

“Terus, mau tau apalagi?” tanyanya, memecah keheningan.

“Hmm…” aku meliriknya sekilas. Dia tersenyum. Manis. Aku membalas senyumnya.

“Hal-hal favorit kamu apa aja?” tanyaku kemudian.

“Hah? Hal-hal favorit? Waduhhh… pertanyaannya!” sejenak dia diam, berpikir, lalu meneguk kopi hitam dari cangkirnya. Aku meneguk cappuccinoku.

“Kopi,” jawabnya.

“Itu sih sudah tahu.”

“Nasi goreng,” katanya lagi.

“Buku, hujan…” lanjutnya, kemudian diam. Memandangiku.

“Kamu,” katanya tiba-tiba.

“Maksudnya kamu mau tau hal favoritku?”

“No. Kamu, hal paling favoritku.”

Kemudian ciumannya mendarat di keningku.

#100kata — Jendela

Rumah itu sempurna, persis seperti yang dibayangkannya. Dia bertukar pandang dengan kekasihnya, yang wajahnya menunjukkan bahwa ia memiliki pendapat yang sama. Rumah itu seakan dibuat untuk mereka. Mungil dan cantik. Perabot yang rencananya akan ditinggalkan oleh pemilik rumah yang lama pun cocok dengan selera mereka. Sungguh mengherankan rumah itu dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

“Bagaimana, pak?” tanya konsultan real estate yang menemani mereka.

“Bagus, kami suka. Kemungkinan besar kami ambil ya, sayang?” tanyanya pada kekasihnya.

“Ya, tapi sebetulnya kenapa rumah ini mau dijual?”

“Oh, kata yang punya, kalau malam suka ada yang ngeliatin dari jendela. Saya sih, tidak percaya.”

#100kata — Buku

Aku ingat, suatu sore kita pergi ke toko buku bersama-sama. Mataku terpana memandang deretan buku yang seakan tak ada habisnya.

“Jadi, kamu kapan mau nulis bukunya?”

“Ah, sudah ada begitu banyak cerita, bagaimana mungkin aku bisa menulis sesuatu yang belum pernah ada?”

Kamu tersenyum, lantas dengan lembut menyentuh bagian bawah punggungku.

“Sayang, ada 7 miliar manusia di dunia, semuanya punya cerita. Mungkin banyak cerita yang serupa, tapi tak pernah ada satupun yang sama.”

Siang ini, di tengah kebisingan salon, sembari Mas Joni memblow rambutku, aku mengambil sebuah keputusan.

“Aku mau menulis tentang kita, mas…” bisikku kepada bayangmu yang tiada.

#100kata — Baju

“Besok jadi ya, ke rumah? Mau kan?”

“Boleh”

“Rame-rame berarti tapi ya? Ngga pa pa?”

“Maksudnya?”

“Ya, kan ngumpul semua, keluarga besar aku”

“Oh”

“Sekalian kenalan kan?”

“Iya”

“Ngga pa pa?”

“Ya ngga pa pa, emang kenapa? Justru akunya yang harusnya nanya, kamu ngga pa pa kalau ngajak aku gitu?”

“Lho, ya emang kenapa kalau ngajak kamu. Toh nantinya juga bakal kenalan, makin cepet makin baik kan?”

“Oh gitu ya”

“Ya iya”

“Okay”

“Kamu kenapa sih, kok jadi aneh gitu? Ngga mau ya, ketemu keluarga aku? Kalau ngga mau ngga usah”

“Bukan”

“Terus kenapa?”

“Enaknya aku pakai baju apa ya?”

#100kata — Aku

Dia pulang, maka aku menyambutnya di depan pintu rumah. Kucium tangannya sebagaimana biasa. Hari ini wajahnya terlihat berbeda, sorot matanya sendu. Aku pernah melihatnya seperti ini, beberapa waktu yang lalu, setelah bertengkar dengan ibu. Waktu itu, ia memandangiku kemudian menangis. Benar saja, tak lama air matanya pun mengalir, ia tersedu. Aku memandanginya dalam diam, tak tahu harus bagaimana. Tak lama, ia mengusap-usap punggungku.

“Aku tidak apa-apa,” katanya.

Tentu saja aku tidak percaya, tapi kalau dia tidak mau cerita, aku tidak bisa memaksa.

“Makan yuk, kamu mau makan apa?” tanyanya sambil berjalan ke meja makan.

“GUK!” jawabku, sambil mengikutinya dari belakang.

#100kata — Sayap

“Kamu yakin dengan keputusan ini?” pertanyaan itu kembali diulangi, entah untuk keberapa kalinya. Aku berhenti menghitung setelah kali ketiga. Atau ketigapuluh? Aku sudah malas menjawabnya. Aku tidak tahu mengapa begitu sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan bahwa aku memang ingin melakukan hal ini. Padahal bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Malah, banyak sekali cerita kejadian serupa yang pernah kudengar. Apakah mereka yang melakukannya sebelum aku juga harus melewati percakapan panjang dan membosankan ini?

“Kamu benar-benar mencintainya?”

Aku menatap wajah sang penanya, dan untuk kesekian kalinya menjawab  ya.

“Kamu rela?”

“Ya”

“Baik, kalau begitu silakan saja. Tinggalkan sayapmu di sana.”

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]

#100kata — Di mana semuanya bermula

Kardus yang tengah kuangkat terasa dua kali lebih berat ketika aku menyadari keberadaannya di belakangku. Bagaimana tidak, seharian ini aku terus memperhatikannya. Aku sungguh berharap dia tidak mengetahuinya, tapi rasanya tidak mungkin. Toh, beberapa kali juga kami bertatap mata. Ada sesuatu yang menarik tentang dirinya, entah apa. Lagipula, aku merasa telah mengenalnya sebelumnya, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Ini pertama kalinya kami bertemu. Eh, kalau belum berkenalan itu bisa dibilang bertemu tidak ya?

“Bawa apa sih? Perlu bantuan?”

“Eh, ga usah, bisa kok…”

“Oh. Oke.”

Dia berjalan melewatiku selagi aku memaki diriku sendiri. Dasar bodoh. Sekarang bagaimana mau kenalannya?

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]