Paris, je t’aime!

One day when we’re sitting in a café, you’ll ask me when it was that I first realized I was in love with you, and I would smile and recall all the moments we shared in our journey thus far, thinking about an answer. No, it wouldn’t be the day I first saw you, it wouldn’t be that smile we shared which no one else noticed, it wouldn’t be that time you touched the small of my back and sent shivers through my spine.

I think the time I realized I was in love with you was when you told me about Paris, about seeing the Eiffel tower for the first time, about going back to marvel at it again and again even if it meant getting left behind. It was the way you told me the story, it made me feel like we both were suddenly transported to Paris, and I was with you, and it was lovely. I remember how your eyes sparkled with the memory, like Paris was magic, and then you smiled at me, like I was, too.

Take a lover who looks at you like maybe you are magic ~ Frida Kahlo

eiffel11

Il est trop tard (the narrative) — 52

Don’t let us get sick, don’t let us get old, don’t let us get stupid, all right? Just make us be brave and make us play nice, and let us be together tonight. — Don’t Let Us Get Sick, Warren Zevon

“What did you say this was called, again?” Thomas asked. They were lying down facing each other, their nose touching just the slightest bit.
“Eskimo kissing,” Aimee answered as she wiggled her nose against his with a grin.
“I…” Thomas turned away and sneezed. He sheepishly peeked back at Aimee.
“Gesundheit,” she whispered as she pecked his nose.
“Sorry, it must be all that rain,” he grimaced.
“I’ll fix you some tea and chicken soup to make sure you’re all healthy tomorrow,” Aimee said, grabbing her t-shirt and pulling it over her naked body.
“I’ll come with you,” Thomas started to get up, only to be pushed back down to bed.
“Remember what I told you about not liking it when people look at me cook? Besides, you need to rest,” she smiled teasingly and kissed his lips.
“But you’re leaving in a couple of hours!” Thomas protested, sitting up.
“Thomas…” Aimee started to say, but the look on his face was determined. She gave up.
“Okay, fine, let’s go, I’m getting hungry!”

Il est trop tard (the narrative) — 51

<strong>Give me one reason to stay here and I’ll turn right back around because I don’t want leave you lonely but you got to make me change my mind.</strong> — Give Me One Reason, Tracy Chapman

*phone rings*

“Hey”
“Haha, no, I’m just chillin! It’s raining so I’m on the couch having some tea. How are you?”
“That’s great! I’m awesome, really enjoying myself here!”
“Oh don’t be silly, of course I’m coming back tomorrow”
“Sure, why don’t you. At your place?”
“My place? Ha. Okay, why not, I guess. But you’ll have to help me clean up”
“Yeah, okay. Hey, listen, Dave, I’ve got to go”
“Yes, no, still going to stay indoors”
“Because it wouldn’t be very nice to make Thomas just listen to me talking on the phone now would it?”
“I know, but really, we can talk tomorrow. I have a long train ride”
“Oh you’re right, I did book the quiet train. Well we could still text”
“I’ll be back in Geneva very very soon, Davey, what is wrong with you?”
“Yes, I miss you too, and everyone else. I’ll see you soon”
“Okay. Bye, Davey!”

“Sorry, that was Dave, my friend from Geneva”
“He likes you, doesn’t he?”
“Well of course he does, he’s my best friend. OH, you mean… no, I don’t think so”
“I do. But he’s not here, and you obviously think he’s just a friend… and my goodness Aimee don’t do that, you look irresistible!”
“Hmmm”
“Mmm”
“I think you’re getting really good at kissing, how good are you at other stuff?”
“If you stay, you might be able to find out”
“Really. Why not now?”
“Oh. Wow!”
“Shh… kiss me”
“Where?”
“All over.”

#100kata — Kopi

Matanya menatapku tajam dan detak jantungku yang tak beraturan menyebabkan aku harus mengalihkan pandangan. Fokusku kemudian: foam susu di cappuccino yang tengah kuminum.

“Terus, mau tau apalagi?” tanyanya, memecah keheningan.

“Hmm…” aku meliriknya sekilas. Dia tersenyum. Manis. Aku membalas senyumnya.

“Hal-hal favorit kamu apa aja?” tanyaku kemudian.

“Hah? Hal-hal favorit? Waduhhh… pertanyaannya!” sejenak dia diam, berpikir, lalu meneguk kopi hitam dari cangkirnya. Aku meneguk cappuccinoku.

“Kopi,” jawabnya.

“Itu sih sudah tahu.”

“Nasi goreng,” katanya lagi.

“Buku, hujan…” lanjutnya, kemudian diam. Memandangiku.

“Kamu,” katanya tiba-tiba.

“Maksudnya kamu mau tau hal favoritku?”

“No. Kamu, hal paling favoritku.”

Kemudian ciumannya mendarat di keningku.

#100kata — Jendela

Rumah itu sempurna, persis seperti yang dibayangkannya. Dia bertukar pandang dengan kekasihnya, yang wajahnya menunjukkan bahwa ia memiliki pendapat yang sama. Rumah itu seakan dibuat untuk mereka. Mungil dan cantik. Perabot yang rencananya akan ditinggalkan oleh pemilik rumah yang lama pun cocok dengan selera mereka. Sungguh mengherankan rumah itu dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

“Bagaimana, pak?” tanya konsultan real estate yang menemani mereka.

“Bagus, kami suka. Kemungkinan besar kami ambil ya, sayang?” tanyanya pada kekasihnya.

“Ya, tapi sebetulnya kenapa rumah ini mau dijual?”

“Oh, kata yang punya, kalau malam suka ada yang ngeliatin dari jendela. Saya sih, tidak percaya.”

#100kata — Buku

Aku ingat, suatu sore kita pergi ke toko buku bersama-sama. Mataku terpana memandang deretan buku yang seakan tak ada habisnya.

“Jadi, kamu kapan mau nulis bukunya?”

“Ah, sudah ada begitu banyak cerita, bagaimana mungkin aku bisa menulis sesuatu yang belum pernah ada?”

Kamu tersenyum, lantas dengan lembut menyentuh bagian bawah punggungku.

“Sayang, ada 7 miliar manusia di dunia, semuanya punya cerita. Mungkin banyak cerita yang serupa, tapi tak pernah ada satupun yang sama.”

Siang ini, di tengah kebisingan salon, sembari Mas Joni memblow rambutku, aku mengambil sebuah keputusan.

“Aku mau menulis tentang kita, mas…” bisikku kepada bayangmu yang tiada.

#100kata — Baju

“Besok jadi ya, ke rumah? Mau kan?”

“Boleh”

“Rame-rame berarti tapi ya? Ngga pa pa?”

“Maksudnya?”

“Ya, kan ngumpul semua, keluarga besar aku”

“Oh”

“Sekalian kenalan kan?”

“Iya”

“Ngga pa pa?”

“Ya ngga pa pa, emang kenapa? Justru akunya yang harusnya nanya, kamu ngga pa pa kalau ngajak aku gitu?”

“Lho, ya emang kenapa kalau ngajak kamu. Toh nantinya juga bakal kenalan, makin cepet makin baik kan?”

“Oh gitu ya”

“Ya iya”

“Okay”

“Kamu kenapa sih, kok jadi aneh gitu? Ngga mau ya, ketemu keluarga aku? Kalau ngga mau ngga usah”

“Bukan”

“Terus kenapa?”

“Enaknya aku pakai baju apa ya?”

#100kata — Aku

Dia pulang, maka aku menyambutnya di depan pintu rumah. Kucium tangannya sebagaimana biasa. Hari ini wajahnya terlihat berbeda, sorot matanya sendu. Aku pernah melihatnya seperti ini, beberapa waktu yang lalu, setelah bertengkar dengan ibu. Waktu itu, ia memandangiku kemudian menangis. Benar saja, tak lama air matanya pun mengalir, ia tersedu. Aku memandanginya dalam diam, tak tahu harus bagaimana. Tak lama, ia mengusap-usap punggungku.

“Aku tidak apa-apa,” katanya.

Tentu saja aku tidak percaya, tapi kalau dia tidak mau cerita, aku tidak bisa memaksa.

“Makan yuk, kamu mau makan apa?” tanyanya sambil berjalan ke meja makan.

“GUK!” jawabku, sambil mengikutinya dari belakang.

#100kata — Sayap

“Kamu yakin dengan keputusan ini?” pertanyaan itu kembali diulangi, entah untuk keberapa kalinya. Aku berhenti menghitung setelah kali ketiga. Atau ketigapuluh? Aku sudah malas menjawabnya. Aku tidak tahu mengapa begitu sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan bahwa aku memang ingin melakukan hal ini. Padahal bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Malah, banyak sekali cerita kejadian serupa yang pernah kudengar. Apakah mereka yang melakukannya sebelum aku juga harus melewati percakapan panjang dan membosankan ini?

“Kamu benar-benar mencintainya?”

Aku menatap wajah sang penanya, dan untuk kesekian kalinya menjawab  ya.

“Kamu rela?”

“Ya”

“Baik, kalau begitu silakan saja. Tinggalkan sayapmu di sana.”

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]

#100kata — Di mana semuanya bermula

Kardus yang tengah kuangkat terasa dua kali lebih berat ketika aku menyadari keberadaannya di belakangku. Bagaimana tidak, seharian ini aku terus memperhatikannya. Aku sungguh berharap dia tidak mengetahuinya, tapi rasanya tidak mungkin. Toh, beberapa kali juga kami bertatap mata. Ada sesuatu yang menarik tentang dirinya, entah apa. Lagipula, aku merasa telah mengenalnya sebelumnya, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Ini pertama kalinya kami bertemu. Eh, kalau belum berkenalan itu bisa dibilang bertemu tidak ya?

“Bawa apa sih? Perlu bantuan?”

“Eh, ga usah, bisa kok…”

“Oh. Oke.”

Dia berjalan melewatiku selagi aku memaki diriku sendiri. Dasar bodoh. Sekarang bagaimana mau kenalannya?

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]