Ada Pelangi di Sudut Senja

#1

Tentang rintik-rintik rindu

ketika hujan membasahi bumi

hanya matahari yang paham

dirinya tak bisa lagi bersama awan

 

#2

Ketika rindu tak terucap

Di saat jarak tak terelak

Aku menatap langit

yang berbisik mengingatkan

“Pelangi hanya dapat terjadi

ketika rintik hujan turun ke bumi”

 

#3

Aku tak menemukan kata-kata yang memadai untuk menyampaikan rinduku padanya

 

#4

Menjelang senja aku masih menanti dalam diam di sampingnya

“Kenapa diam saja?”

Dia tersenyum dan menunjuk ke ujung sana

Ada pelangi di sudut senja

Seperti cinta yang tak sempurna diungkap kata

 

#5

Merindumu adalah seperti berusaha melukiskan pelangi di sudut senja

Aku hanya punya kuasnya

dan kamu…

tujuh warna

yang membuatku sempurna

 

Suatu malam ketika hujan di bulan Juni

Yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
adalah
gadis pencinta
yang tak pernah tahu
bahwa ada yang merindunya
karena
tak seperti perindu lainnya
pria itu tak pernah mencarinya…

[box type=”shadow”]Sebuah balasan untuk puisi Sapardi Djoko Damono, “Hujan Bulan Juni” dan Khrisna Pabichara, “Suatu Malam Ketika Aku Merindumu”[/box]

 

[one_half]Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

 

tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

 

tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu[/one_half] [one_half_last]Suatu Malam ketika Aku Merindumu

Khrisna Pabichara

Tak seperti perindu lainnya

aku takkan mencarimu

Karena kamu telah kutemukan

di hatiku,

tempat yang sarat hanya
olehmu.[/one_half_last]

Twinkle Twinkle Little Star

Panas kota Jakarta yang menyengat mengalahkan dinginnya AC mobil sedan milik perempuan itu. Panasnya hatinya sendiri juga tidak membantu. Wajah klien sialan yang tadi masih terbayang. Sungguh kurang ajar, berani-beraninya klien itu merayunya sedemikian rupa. Diliriknya cincin di jari manis tangan kanannya. Cincin yang dipakainya dengan sengaja untuk menghindari kejadian seperti tadi, meskipun sebetulnya dia belum menikah.

“Pak, ACnya ngga bisa lebih dingin lagi?” tanyanya gusar kepada supir di depan. “Wah, udah pol, mbak…” jawab sang supir. Perempuan itu hanya diam. Mobil bergerak perlahan, lantas berhenti terkena lampu merah. Mendadak, entah dari mana munculnya, seorang anak laki-laki membawa biola berdiri di depan jendela. Perempuan itu tidak dapat menahan senyum. “Ada-ada saja pengamen zaman sekarang, sudah bawa-bawa biola…” pikirnya. Anak laki-laki itu memainkan biolanya, dan perempuan itu terpana. Lagunya sederhana, Twinkle Twinkle Little Star, lagu standar yang harus dipelajari oleh semua orang yang belajar biola menggunakan metode Suzuki. Lagu yang dulu dimainkannya beratus-ratus kali di bawah pengawasan ibunya.

Wajah anak laki-laki itu tidak menunjukkan emosi apa-apa. Agaknya ia sudah memainkan lagu tersebut beratus-ratus kali juga. Setelah selesai satu lagu, ia menurunkan biolanya dan menyodorkan tangannya meminta sedekah. Yang tidak ia sangka, perempuan di balik jendela itu meneteskan air mata sambil memberikan uang lima puluh ribu kepadanya. Uang tersebut digulung dan diselipkan ke dalam sebentuk cincin yang berkilauan. Belum hilang rasa kagetnya, mobil itu sudah meluncur pergi. Lima puluh ribu! Sekarang ia bisa pulang, biaya kursus biola dengan tetangganya sudah tersedia paling tidak sampai bulan depan. Cincin itu? Akan ia hadiahkan kepada ibunya.

Di dalam mobil, perempuan itu menelepon bosnya. “Mulai besok, saya berhenti,” katanya. Sebelum bosnya sempat menjawab, ia mematikan ponselnya.

“Pak, mampir toko musik di depan, saya mau beli biola!”

[box type=”shadow”]Dibuat dalam rangka sebuah workshop menulis, awal Maret 2013. Tugas yang diberikan: menulis bebas berdasarkan prompt seorang bocah pengamen bermain biola.[/box]

Pulang dari Amerika, 2010

[box type=”shadow”]Barusan iseng-iseng bongkar dokumen-dokumen lama dan menemukan sebuah file… semacam catatan perjalanan ke Amerika Serikat 2010 yang lalu. Baru outline, belum ada ceritanya, terbengkalai. Tapi epilognya sudah ditulis, berikut ini. Mudah-mudahan segera sempat menuliskan yang lain 🙂
[/box]

Seperti biasa, orang-orang sudah berkerumun memenuhi daerah sekitar conveyor belt ketika saya sampai. Maklum, saya kan hobby jalan pelan-pelan menikmati pemandangan sedangkan orang-orang ini tampaknya super sibuk semua jadi buru-buru. Hehehe. Masalahnya, saya punya dua koper dan dua tas besar yang perlu diangkat. Ehem.

Tuh, mereka datang. Saya pun nyelip untuk mengangkat barang-barang tersebut. Untung mereka tidak berderet-deret, jadi saya sempat meletakkannya di trolley sebelum nyelip lagi.

Seorang bapak yang berdiri di sebelah conveyor belt memperhatikan saya mengangkat tas-tas tersebut.

“Wah, ini pasti mahasiswa ya…” katanya. Sambil mengangkut tas ketiga dan agak kesal kenapa bapak ini bukannya membantu malah mengajak ngobrol, saya tersenyum dan menjawab “iya, pak”. Bruk. Tas ketiga tersusun di atas trolley. Masih satu lagi. A-ha. Saya kembali bersiap-siap mengangkat koper.

“Sudah berapa tahun di US?” tanya Bapak itu lagi.

Hupp, saya mengangkat koper dan memindahkannya ke atas trolley.

“Dua bulan, pak… mari…” jawab saya sambil melengos pergi diiringi tatapan heran si Bapak.

#IDTC Extended, edisi 04/06/13

Biasa kalau lagi ada sesuatu yang penting untuk dikerjain tapi banyak pikiran lain kemudian jadi procrastinating… kemudian cari hal lain untuk dikerjakan, seperti misalnya ikutan #IDTC dan membuat versi extendednya berikut ini. Hihihi.

#IDTC kemarin malam dengan host @lostpacker adalah edisi paling “ngga travel banget” kayanya, lah abis, temanya aja udah “LovePacker”… ditambah dengan kenyataan bahwa sebagian besar peserta reguler #IDTC adalah makhluk-makhluk haus cinta, ya kebayang lah ya apa jadinya.

Okay, without further ado…

T1 Tempat paling romantis untuk traveling menurut kalian itu dimana? dan kenapa?
J1 — Bagusnya sih ke Alps kemudian sewa chalet trus ga usah keluar rumah di dlm aja liat salju turun, ngobrol, minum kopi, dst. dsb.

Ini mimpi romantis dari zaman dahulu kala sepertinya. Melibatkan semua elemen-elemen yang gw suka: the dearly beloved person, pegunungan, rumah kayu, salju, perapian, minuman hangat, conversations, hugs and kisses. Lots of them.

Pemandangan keluar jendelanya begini nih...
Nih, nih, pemandangan keluar jendelanya begini nih…

Sayangnya, waktu pertama dan sekali-kalinya ke Alps selama di Jenewa kemarin, elemen utamanya salah. Bukannya sama pasangan/gebetan, yang ada gw di chalet itu sama rekan sesama intern yang orangnya agak-agak ajaib dan yang jelas gw ga ada rasa-rasa apapun ke dia. Mimpi romantis pun gagal total untuk tercapai. Padahal tahun baruan (ga ada hubungannya juga sih, cuma ngasih tau aja itu pas tahun baruan).

Jalan-jalan dan moto-moto pun sendiri... padahal udah dandan cantik #eh
Jalan-jalan dan moto-moto pun sendiri… padahal udah dandan cantik #eh

Sementara itu, banyak temen-temen #IDTC yang jawab bahwa tempatnya ngga penting, yang penting itu sama siapanya. Dilihat dari pengalaman di chalet tadi, ini emang bener banget. Kalau perginya sama orang yang ngga ada rasa sama sekali, mau tempatnya romantis kaya apa juga yang ada mangkel: “uuh, romantis gini tapi kok temennya dia sih? Coba kalau…”

T2 Film tentang traveling yg paling romantic menurut kalian itu apa? Kenapa?
J2 — Kayanya akan agak terpaksa jawab Eat, Pray, Love deh…

Terpaksa, karena kelamaan mikir belom dapet-dapet ide juga. Harap maklum jarang banget kayanya nonton film bergenre romance. Iya, ga gitu doyan chick-flick. Terus berasa basi gitu jawab Eat, Pray, Love. Standar banget. Mainstream. Padahal di jawaban #IDTC semalam malah paling banyak yang jawab UP sih. Hihi.

Anyway, on further reflection, berikut dua film alternatif jawaban gw:  Pertama, Roman Holiday, Audrey Hepburn classic. Princess meets Average Joe, falls in love while going through the streets of Rome. Yep. Kedua, Chasing Liberty, over-protected girl (the President’s daughter) runs off with cute average guy, travels and fall in love. Do you see a pattern here? Oh iya yah. Ups.

tumblr_m0sukyeLLj1qbozmro1_500

T3 Jika kalian bisa traveling bareng pacar, ehemm lagu Favourite kalian yg romantis itu apa sih?
J3 — masa cuma satu lagu sih?? nih ah, playlist… http://ow.ly/lGVLM

Bukti paling akurat kalau semalem ikut #IDTCnya ngga konsen, playlist yang dilink itu lagu-lagunya ngga cocok banget buat soundtrack travelling bareng pacar. Cocoknya buat solo travelling sambil menggalau. Hahaha. Sementara itu, berikut playlist untuk diputer kalau (suatu hari nanti akhirnya bisa) travelling sama pacar. In no particular order, agak random. Oh ya, paling cocok kalau travellingnya itu roadtrip ya, diputer di mobil playlistnya. Okesip.

  • Last Night I Dreamt of Mississippi — Nicolai Dunger
  • Falling in Love at a Coffee Shop — Landon Pigg
  • Bubbly — Colbie Caillat
  • Somewhere Only We Know — Keane
  • Chasing Cars — Snow Patrol
  • Time Alone with You — Bad English
  • Aku Suka Caramu — Abdul and The Coffee Theory
  • A Whole New World — Peabo Bryson
  • I’m With You — Avril Lavigne
  • I Do — Colbie Caillat
  • I Don’t Wanna Miss a Thing — Aerosmith
  • If Tomorrow Never Comes — Ronan Keating
  • I Wanna Kiss You All Over — Exile
  • Insatiable — Darren Hayes
  • A Little More of You — Ashely Chambliss
  • Grow Old With You — Adam Sandler
  • Hingga Akhir Waktu — Nine Ball
  • Heaven — Warrant
  • God Gave Me You — Dave Barnes

Udah, sementara sekian dulu. Lain kali ditambahin lagi. Tips kalau mau buat playlist sendiri: pastikan lagu-lagunya variatif dan disukai oleh kedua belah pihak. Atau paling tidak selipkan satu dua lagu yang dia suka 🙂

T4 Jika disamping kalian ada om Jin nya aladin, kalian mau minta paket menikah + hanimun kemana? Kenapa?
J4 — menikahnya di Berastagi (deket danau tuh ada venue bagus bgt), hanimun keliling dunia yah sayang yah #eh

Ralatnya (setelah diprotes dua orang dari daerah sana), danau yang dimaksud adalah Danau Toba. Tapi seriously venuenya itu di Berastagi deh. Apa namanya yah lupa. Yang jelas ada kaya panggung gitu dengan backdrop pemandangan berikut ini:

Lebih indah (dan lebih ga mainstream) dari Bali kan?
Lebih indah (dan lebih ga mainstream) dari Bali kan?

Mengenai honeymoon keliling dunia, ini juga lagi-lagi mimpi dari kecil. Ngga tau kenapa pengennya begitu, padahal yang ada bakal capek banget ya? Kecuali honeymoonnya setahun dan jalan santai… *mulai ngayal* Oh well, alternatifnya, honeymoonnya dilanjutin di Berastagi juga deh. Di deket tempat venue tadi, ada penginapan gitu yang tempatnya secluded banget. Super eksklusif. Kamarnya macam di tengah-tengah hutan gitu, ada waterfall di depan teras…

Ini nih nih waterfallnya...
Ini nih nih waterfallnya…

Oke, oke, pertanyaan yang mau ditanya sama semua orang kayanya: ini tau darimana?? Hahaha. Salahkanlah panitia waktu ada acara kantor di Berastagi yang entah bagaimana ceritanya waktu itu mendadak jadi kaya promo tour ke tempat ini. Sekian.

T5 Pernah ketemu travelmate yang kalian suka tapi gak berani ngomong duluan? Siapa (kalau berani mention)?
J5 — pernah sih dulu… tp dianggep sepupu dong sama dia… yasudahlah…

Cerita di balik jawaban ini, yang bersangkutan adalah anak dari temennya tante. Waktu pertama kali kenalan itu dia masih bocah ingusan. Ketika ketemu lagi beberapa tahun kemudian, ternyata jadi ganteng parah. Kemudian, sempat berlibur mengunjungi dia waktu di Eropa. Yah gitu lah, namanya ditemenin jalan sama orang yang ganteng dan baik gimana ga timbul sedikit rasa-rasa gimana gitu kan ya… Tapi karena kenal dari kecil itu tadi, dia pun memanggil saya sepupu. Demikian, segenap harapan pupus. Hahaha. Ngga gimana-gimana banget sih, soalnya emang pure cinlok. Tapi masih jadi inspirasi novel yang belum selesai ditulis sampai sekarang itu. Bisa dicek kategori “Fiction” 🙂

Sekian #IDTC Extended, mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, dan ketemu lagi minggu depan. Katanya sih minggu depan ngga bahas “lope-lope” lagi. Kita lihat saja… UHUK.

[ID] #IDTC Extended, edisi 28/05/13

Selasa malam, meskipun ribet karena di mobil dan sambil megangin si Pierre, tetep dong ikutan IDTC. Tema minggu ini “Travel Buddy” dengan host kak Eka (@ceritaeka). Seperti biasa (halah, baru juga sekali sebelumnya), karena satu tweet ga cukup untuk bercerita, berikut Extended Version dari IDTC tersebut.

T1: Which one do u like best? Solo traveling or travel with buddy? Why? Cuuus Cyiin.
J1 — so far prefer solo travelling mainly krn susah nyamain jdwl…

Serius. Nyamain jadwal sama temen-temen gw itu entah kenapa susahnya amit-amit. Ngga usah ngomong soal mau travelling, janjian sama anak-anak M.Div. mau ngopi-ngopi aja udah dua bulan belom berhasil-berhasil. Tapi bukannya ngga pernah travelling sama temen sih. Pernah juga. So far kayanya sebatas day trip gitu. Atau, waktu perginya emang nyamperin temen trus jalan-jalan lah ya di kotanya sendiri. Atau waktu di Roma yang tadinya berniat solo, ujung-ujungnya punya satu grup jalan orang-orang Indonesia, purely coincidental ^^

Solo travelling versus travel with buddy itu masing-masing ada enak ngga enaknya. Enaknya solo travelling, bebas sebebas-bebasnya mau ke mana dan mau ngapain. Mau jalan sejauh apa, mau mampir ke mana, mau nyasar, apapun terserah. Misalnya mau ke tempat yang berbayar juga ngga perlu pake ngecek dulu yang lain mau bayar apa ngga. Terus kalo demennya sama hal-hal yang “agak aneh” (seperti misalnya duduk-duduk di taman ngeliatin awan seharian), ya ngga masalah juga.

Enaknya travelling sama buddy… ada yang bisa diajak ngobrol, terutama untuk ngomenin (memberi komentar) hal-hal di sekitar, bisa sharing cost (banyak promo buat berdua/grup juga kan) dan ada yang bisa motoin. Hehe. Masalah dengan hal ini: sebenernya jarang suka foto diri yang diambil oleh orang lain. Jadi milih travel buddy mungkin perlu dites dulu, kalau motoin bagus ngga jadinya? Kalau ngga mending foto sendiri aja 😛

Paling berasa pengen punya travelling buddy saat lagi solo travelling adalah waktu ke Disneyland Paris, naik roller coaster… dan GA BISA TERIAK karena pandangan anak kecil yang duduk di sebelah itu terlalu tajammmm, lagian juga ngga enak gitu teriak-teriak sendirian. SIGH.

T2: Show some love… Mensyen traveling buddy fave kamuh 😉 berikut alasannya yaaa. Boleh mensyen siapa ajah
J2 — ini nih, travel buddy plg favorit sejak circa 2010. Namanya Peter 🙂

Peter in Japan

Si boneka beruang yang satu ini lahir di Singapore. Dari awal emang diniatin buat jadi temen jalan, dari pilihan baju sampai dibeliin backpack. Tadinya punya sunglasses tapi pecah, belum beli lagi. Sayangnya karena agak besar akhirnya niat untuk bawa dia jalan-jalan kemana-mana dan difoto-fotoin pun pupus… bahkan terakhir waktu masih di Eropa si Peter ngga dibawa sama sekali. Kerjanya cuma duduk di sofa di kamar. Kasian sih, tapi mau gimana lagi, terlalu ribet kalau dibawa. Yang bikin seneng cuma kalau lagi sepi (kan solo travelling) bisa peluk-peluk si Peter karena ukurannya pas untuk dipeluk. Hiks hiks *kemudian galau* — Sebenernya masih niat punya travelling mascot sih, ta