Hari Kartini dan Ibu Penyapu Jalan

13007263_10153478206816611_5750136640822098997_n

Si ibu ini… Serius banget nyapu jalan di tengah hujan. Tapi sambil mempersilakan orang lewat. Lalu, pas di depan mobil gw agaknya sadar difoto lalu dia tersenyum menyapa selamat pagi.

Jadi inget quote Martin Luther King Jr. yang bilang:
“If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as a Michaelangelo painted, or Beethoven composed music or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, ‘Here lived a great street sweeper who did his job well.”

Dan kemudian kepikiran mungkin itulah pesan Hari Kartini yang sesungguhnya. Seperti Kartini yang terus belajar dan mengajar sekalipun terpaksa harus tunduk pada tradisi, pada orangtua, pada suami yang sudah punya dua istri lain…

  • Milikilah sebuah tujuan (bahkan seandainya tujuan itu layaknya mimpi), dan teruslah bekerja dan berusaha mencapai tujuan itu, sekalipun situasi dan kondisi tidak mendukung.
  • Lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk mencapai tujuanmu di tengah situasi apapun kamu ditempatkan.
  • Sampaikan mimpimu kepada orang lain, yang mungkin akan menyampaikannya kepada orang lain lagi, dan kemudian bisa saja mimpi itu akhirnya menginspirasi banyak orang.
  • Sekalipun mimpimu tampaknya tidak akan mungkin terwujud dalam kehidupanmu, tetap jalankan sekuat tenagamu, karena mungkin apa yang kamu lakukan membantu orang lain mencapai mimpi mereka.

Selamat hari Kartini, segenap penduduk Indonesia!

Terima kasih, ibu penyapu jalan, untuk kerja kerasmu yang membuat jalan raya menjadi bersih, aman dan nyaman untuk kami yang melewatinya. Dan terima kasih untuk senyuman yang membagikan semangat di pagi hari sekalipun hujan tak henti-henti.

Tentang Pierre sore tadi

Perkenalkan, anjing Pomeranian yang satu ini namanya Pierre. Makhluk paling bandel dan paling nge-boss di antara pom-pom lain di rumah (iya, ada banyak). Cuma dia yang punya hak eksklusif berkeliaran sepuasnya di dalam rumah, terus suka diajak jalan-jalan naik mobil keliling-keliling kota, dan paling dimanja juga.

Anyway, sore tadi, gw lagi butek sebutek-buteknya… dan kemudian adalah sebuah e-mail yang malesin banget dan alhasil gw bales dengan agak-agak kurang sopan menurut standar pribadi gw. Dan seperti biasa, gw merasa agak bersalah tentang hal ini. Bikin mumet kepala.

Terus, ceritalah gw ke nyokap soal “kasus” e-mail ini. EH, dia malah ngeledek-ledekin gitu. Nah, di saat gw lagi “panas” sampai ke ubun-ubun, diledekin, sukses lah gw nangis kejer.

Pas gw nangis itu… si Pierre mendadak gonggong-gonggong marah, ke arah nyokap! Terus, pas gw angkat ke pangkuan, dia jilat-jilat muka gw yang berlinangan air mata, terus sesekali gonggong marah ke nyokap lagi, terus jilatin muka gw lagi. Hihihi, berasa dibelain dong, ada yang ngomelin nyokap karena bikin gw nangis.

Setelah itu, karena emang sebenernya bukan gara-gara nyokap juga sih nangisnya, gw kasih tau lah si Pierre… terus dia lompat turun dan gonggongin gw. Ngambek kali ya, “udah dibelain, bukan bilang dari tadi, klo ntar mama marah gw ga dikasih snack, gimana?”

#100kata — Kopi

Matanya menatapku tajam dan detak jantungku yang tak beraturan menyebabkan aku harus mengalihkan pandangan. Fokusku kemudian: foam susu di cappuccino yang tengah kuminum.

“Terus, mau tau apalagi?” tanyanya, memecah keheningan.

“Hmm…” aku meliriknya sekilas. Dia tersenyum. Manis. Aku membalas senyumnya.

“Hal-hal favorit kamu apa aja?” tanyaku kemudian.

“Hah? Hal-hal favorit? Waduhhh… pertanyaannya!” sejenak dia diam, berpikir, lalu meneguk kopi hitam dari cangkirnya. Aku meneguk cappuccinoku.

“Kopi,” jawabnya.

“Itu sih sudah tahu.”

“Nasi goreng,” katanya lagi.

“Buku, hujan…” lanjutnya, kemudian diam. Memandangiku.

“Kamu,” katanya tiba-tiba.

“Maksudnya kamu mau tau hal favoritku?”

“No. Kamu, hal paling favoritku.”

Kemudian ciumannya mendarat di keningku.

#100kata — Jendela

Rumah itu sempurna, persis seperti yang dibayangkannya. Dia bertukar pandang dengan kekasihnya, yang wajahnya menunjukkan bahwa ia memiliki pendapat yang sama. Rumah itu seakan dibuat untuk mereka. Mungil dan cantik. Perabot yang rencananya akan ditinggalkan oleh pemilik rumah yang lama pun cocok dengan selera mereka. Sungguh mengherankan rumah itu dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

“Bagaimana, pak?” tanya konsultan real estate yang menemani mereka.

“Bagus, kami suka. Kemungkinan besar kami ambil ya, sayang?” tanyanya pada kekasihnya.

“Ya, tapi sebetulnya kenapa rumah ini mau dijual?”

“Oh, kata yang punya, kalau malam suka ada yang ngeliatin dari jendela. Saya sih, tidak percaya.”

#100kata — Buku

Aku ingat, suatu sore kita pergi ke toko buku bersama-sama. Mataku terpana memandang deretan buku yang seakan tak ada habisnya.

“Jadi, kamu kapan mau nulis bukunya?”

“Ah, sudah ada begitu banyak cerita, bagaimana mungkin aku bisa menulis sesuatu yang belum pernah ada?”

Kamu tersenyum, lantas dengan lembut menyentuh bagian bawah punggungku.

“Sayang, ada 7 miliar manusia di dunia, semuanya punya cerita. Mungkin banyak cerita yang serupa, tapi tak pernah ada satupun yang sama.”

Siang ini, di tengah kebisingan salon, sembari Mas Joni memblow rambutku, aku mengambil sebuah keputusan.

“Aku mau menulis tentang kita, mas…” bisikku kepada bayangmu yang tiada.

#100kata — Baju

“Besok jadi ya, ke rumah? Mau kan?”

“Boleh”

“Rame-rame berarti tapi ya? Ngga pa pa?”

“Maksudnya?”

“Ya, kan ngumpul semua, keluarga besar aku”

“Oh”

“Sekalian kenalan kan?”

“Iya”

“Ngga pa pa?”

“Ya ngga pa pa, emang kenapa? Justru akunya yang harusnya nanya, kamu ngga pa pa kalau ngajak aku gitu?”

“Lho, ya emang kenapa kalau ngajak kamu. Toh nantinya juga bakal kenalan, makin cepet makin baik kan?”

“Oh gitu ya”

“Ya iya”

“Okay”

“Kamu kenapa sih, kok jadi aneh gitu? Ngga mau ya, ketemu keluarga aku? Kalau ngga mau ngga usah”

“Bukan”

“Terus kenapa?”

“Enaknya aku pakai baju apa ya?”

#100kata — Aku

Dia pulang, maka aku menyambutnya di depan pintu rumah. Kucium tangannya sebagaimana biasa. Hari ini wajahnya terlihat berbeda, sorot matanya sendu. Aku pernah melihatnya seperti ini, beberapa waktu yang lalu, setelah bertengkar dengan ibu. Waktu itu, ia memandangiku kemudian menangis. Benar saja, tak lama air matanya pun mengalir, ia tersedu. Aku memandanginya dalam diam, tak tahu harus bagaimana. Tak lama, ia mengusap-usap punggungku.

“Aku tidak apa-apa,” katanya.

Tentu saja aku tidak percaya, tapi kalau dia tidak mau cerita, aku tidak bisa memaksa.

“Makan yuk, kamu mau makan apa?” tanyanya sambil berjalan ke meja makan.

“GUK!” jawabku, sambil mengikutinya dari belakang.

#100kata — Sayap

“Kamu yakin dengan keputusan ini?” pertanyaan itu kembali diulangi, entah untuk keberapa kalinya. Aku berhenti menghitung setelah kali ketiga. Atau ketigapuluh? Aku sudah malas menjawabnya. Aku tidak tahu mengapa begitu sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan bahwa aku memang ingin melakukan hal ini. Padahal bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Malah, banyak sekali cerita kejadian serupa yang pernah kudengar. Apakah mereka yang melakukannya sebelum aku juga harus melewati percakapan panjang dan membosankan ini?

“Kamu benar-benar mencintainya?”

Aku menatap wajah sang penanya, dan untuk kesekian kalinya menjawab  ya.

“Kamu rela?”

“Ya”

“Baik, kalau begitu silakan saja. Tinggalkan sayapmu di sana.”

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]

#100kata — Di mana semuanya bermula

Kardus yang tengah kuangkat terasa dua kali lebih berat ketika aku menyadari keberadaannya di belakangku. Bagaimana tidak, seharian ini aku terus memperhatikannya. Aku sungguh berharap dia tidak mengetahuinya, tapi rasanya tidak mungkin. Toh, beberapa kali juga kami bertatap mata. Ada sesuatu yang menarik tentang dirinya, entah apa. Lagipula, aku merasa telah mengenalnya sebelumnya, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Ini pertama kalinya kami bertemu. Eh, kalau belum berkenalan itu bisa dibilang bertemu tidak ya?

“Bawa apa sih? Perlu bantuan?”

“Eh, ga usah, bisa kok…”

“Oh. Oke.”

Dia berjalan melewatiku selagi aku memaki diriku sendiri. Dasar bodoh. Sekarang bagaimana mau kenalannya?

 

[box] Ditulis dalam rangka ikutan Agustus #100kata-nya @NitaSellya[/box]

#IDTC Extended — Nyasar (16/07/13)

So… setelah absen nulis #IDTC Extended selama kira-kira sebulan, kali ini saya kembali lagi dengan #IDTC Extended edisi 16 Juli kemarin yang dihost oleh @bpborneo dan @twitdebbzie yang mengambil tema “Nyasar”, yang kebetulan adalah hobby saya kalau travelling.

Bukan, bukan karena ngga bisa baca peta atau ngga tau arah (percaya ga percaya, kalau jalan bareng orang lain, saya biasanya yang paling dipercaya jadi penunjuk arah), tapi karena filsafat travelling saya adalah ini:

BO9VLlrCYAA0Hed

 

T1. Pernah punya pengalaman nyasar? ceritain donk

J1 — karena hobby-nya emang wandering, nyasar pun ngga berasa nyasar sih sbnrnya…

Iya, udah dikasih tau kan diatas tadi, hihihi. Jadi ngga seru nih bakalnya. Tapi, karena ini adalah #IDTC Extended, selayaknyalah saya membagikan beberapa pengalaman nyasar tersebut. Hmmm, mulai dari mana ya? Random aja kali ya.

Saya pernah nyasar waktu mau ke gereja suatu hari Minggu di Vienna. Salah belok gitu dan masuk ke gang-gang kecil. Kemudian pas mulai sedikit-sedikit panik… tiba-tiba turun salju!!! Padahal itu bulan April… dan sepanjang jalan semua orang berhenti, ngeliatin langit dengan terpesona. It was pretty amazing. Kemudian, pas melanjutkan perjalanan, ternyata hari itu lagi ada acara khusus jadinya ada misa di tengah-tengah kota, baru kemudian parade masuk ke gerejanya. So, seandainya tadi ngga nyasar, kemungkinan saya akan bengong sendiri di gereja dan kehilangan momen berharga ngeliat misa di tengah-tengah kota itu.

Pengalaman nyasar lainnya yang juga berkesan banget adalah di Luxembourg. Masalahnya, saya nyasar-nyasar jalan kaki di tengah cuaca dingin sambil bawa backpack seberat kira-kira 20kg, nyari hostel. Ceritanya nanya sama orang di stasiun hostelnya di mana, terus katanya deket tinggal lurus aja, ya udah jalan lurus dong ya… dan ngga nyampe-nyampe. Yang paling ngeselin, liat peta (IYA, sampe akhirnya liat peta!) perasaan harusnya udah bener tapi kok ga ada hostelnya? Dan ternyata Luxembourg itu aneh, kotanya terbagi dua lapis, ada kota bagian atas dan kota bagian bawah. Si hostel ada di bawah, dan saya di atas… demikianlah kenapa saya ngga berhasil menemukan hostel tersebut.

Lucunya lagi (atau begonya ya?) besoknya pas mau pulang, saya memutuskan jalan kaki lagi ke stasiun, dengan berpedoman pada plang-plang yang menunjukkan arah ke stasiun. DAN NYASAR LAGI. Dan hari itu salju turun lama. Sampai stasiun saya udah kaya boneka salju. Sekian.

Hmm… yang lain lagi, waktu sok-sokan mau menyusuri walking route di Wengen, Switzerland. Wengen ini kota kecil yang merupakan perhentian kalau mau ke Jungfraujoch yang katanya salah satu puncak tertinggi Swiss alps. Begonya saya jalan ngga bawa air minum dan kemudian lupa pula kalau saya agak-agak takut ketinggian dan dan dan… well… singkat cerita saya hampir pingsan di tengah-tengah halaman rumah orang. Kemudian makan salju melawan dehidrasi. Sampai rumah, ngga mau keluar lagi sampai besok pagi. Ya tapi worth it sih, dapet view begini:

IMG_4932

Udah lah ya segitu aja cerita pengalaman nyasarnya. Eh iya, satu lagi deh biar genap lima (genap kok lima sih, Aiko?), sempet ada yang jawab pernah nyasar di stasiun kereta karena ngga tau platformnya. NAH. Saya ya, pernah dong, waktu di Paris… masuk kereta salah arah gitu. Biasa aja? Iya sih, kalau sekali mah biasa aja. Tapi masalahnya… besokannya dengan pede saya naik kereta dengan yakin ngga bakal salah kali ini… dan ternyata salah lagi! #okesip

 

T2. Katanya nyasar adalah salah satu seni Traveling, menurut kamu?

J2 — YES. Setuju banget. Ya iya dari tadi juga udah bilang sih seringnya sengaja nyasar… hahaha

Oke, jadi kan ceritanya tadi di atas itu beberapa pengalaman nyasar… yang ngga sengaja, tapi in a way sengaja juga sih. Maksudnya gini, waktu mulai berasa “nyasar”, sebetulnya kan bisa aja ya, balik arah gitu, atau nanya, atau lihat peta, tapi… cenderungnya ya udah lanjut jalan aja. Yang penting — dan ini serius beneran penting banget — jalanannya masih aman dan tau/bisa ketemu jalan pulang. Jangan pernah nyasar sampe ke gang-gang sempit dan gelap malem-malem (atau ke daerah-daerah yang tampak berbahaya/mencurigakan) dan/atau nyasar sampe ngga bisa pulang. PRINSIP.

Nah, terkait T2 ini saya ngasih tips juga kalau mau nyasar yang nyeni, yaitu ngikutin arah angin. Maksudnya, jalan klo anginnya bertiup ke kanan, berarti belok kanan, klo angin bertiup ke kiri, ikut belok kiri, gitu. Sebetulnya belum pernah dijalanin sendiri sih, tapi ini salah satu ide Experimental Travel yang menurut saya cukup keren dan mudah-mudahan one day bisa dilaksanakan. Ide lainnya antara lain naik kereta/bis until the end of the line (klo ini pernah banget) dan cari-carian sama seseorang dengan cuma menetapkan kota tujuan tapi ngga janjian ketemu di mana. Yang ini belum pernah dicoba tapi pinginnya ampun-ampunan. Janjinya sih ada yang mau nemenin sih *wink*

 

T3. Seandainya memang harus nyasar, maunya kemana? Eh, jangan kehatiku yah…

J3 — nyasar ke… deket rumah seseorang… terus telpon abis itu minta disamperin deh… #EHHH

Ini mungkin jawaban saya yang paling “nyasar” dalam #IDTC kali ini. Yah abis, kalau harus nyasar. Hehe. Nyasar itu jangan pakai harus, segala sesuatu yang diharuskan itu ngga enak rasanya. Percayalah.

Nah, dalam pemantauan terhadap hashtag #IDTC, saya kemudian menyimpulkan yang berikut ini.

Sementara ini, dua orang mau nyasar di Paris, dua orang mau nyasar ke Surga… dan entah berapa yg sukanya nyasar ke hati orang…

Omong-omong soal nyasar ke hati, so far dalam #IDTC kali ini memang banyak banget yang ngomongin urusan nyasar ke hati. Maka dari itu, saya pun membagikan sedikit petuah:

Dibilangin dari tadi, klo ke hati orang jangan nyasar, tapi menemukan tujuan… *edisi tips u/ #AJN*

Banyak juga yang jawab mau nyasar ke KUA atau ke pelaminan. Sekali lagi, kalau ini jangan nyasar dong, teman-teman… jadikanlah benar-benar tujuan 🙂

 

T4. Punya tips biar gak nyasar?

J4 — tips biar ga nyasar, dari awal jalan jangan pakai tujuan. SEKIAN.

Sekali lagi, ini masalah filsafat travelling. Quote favorit saya, sekaligus yang menjadi travel principles saya (selain “not all those who wander are lost”-nya J.R.R. Tolkien) adalah ini:

If-you-dont-know

Cuma ya emang sih, kebanyakan orang kalau traveling ya pengennya ada tujuannya gitu. Pengen liat ini, liat itu. Well, itu perlu juga sih. Tapi, kalau usul saya, jangan sampe karena terlalu menggebu-gebu pengen liat ini-itu terus lupa menikmati perjalanan, terus kalau nyasar sehingga jadwalnya berantakan akhirnya stress sendiri. JANGAN. Perjalanan itu untuk dinikmati kok, bukan untuk dibawa ngoyo. Dan, terkadang, dari pengalaman nyasar itu justru lebih banyak cerita dan lebih banyak makna yang bisa kita dapatkan.

Tapi oke, just in case emang takut banget bakal nyasar… beberapa tips penting adalah sebagai berikut:

  • kenali daerah tujuan sebelum pergi dengan banyak membaca tulisan di internet, di buku panduan, di brosur-brosur, dll.
  • pastikan kamu tau rute perjalanan yang harus ditempuh, dan rute pulang ke tempat penginapan juga.
  • bawa peta!
  • jangan sungkan-sungkan untuk nanya, bahkan seandainya ngga bisa bahasanya sekalipun.
  • terakhir, kalau emang takut nyasar, ya jangan pergi sendirian… bawa temen yang kira-kira tau jalan 🙂

 

T5. Sebutkan orang yang pengen kamu ajak nyasar bareng. Mention ya 😀

J5 — ah, orang yg mau diajak nyasar bareng mah ga perlu dimention juga udah tau kok 😉

Yang ini ngga perlu pakai extension lagi. Dia tau.

 

[box type=”info”] Catatan kredit ilustrasi: gambar pertama dari tweet @ndorokakung, gambar kedua sudah lama ada di harddisk saya, kayanya dari tumblr. Klo ada yang tau sumbernya kabar-kabari yaaa! Kalau fotonya, hasil jepretan sendiri dong pasti![/box]