#100kata — Aku

Dia pulang, maka aku menyambutnya di depan pintu rumah. Kucium tangannya sebagaimana biasa. Hari ini wajahnya terlihat berbeda, sorot matanya sendu. Aku pernah melihatnya seperti ini, beberapa waktu yang lalu, setelah bertengkar dengan ibu. Waktu itu, ia memandangiku kemudian menangis. Benar saja, tak lama air matanya pun mengalir, ia tersedu. Aku memandanginya dalam diam, tak tahu harus bagaimana. Tak lama, ia mengusap-usap punggungku.

“Aku tidak apa-apa,” katanya.

Tentu saja aku tidak percaya, tapi kalau dia tidak mau cerita, aku tidak bisa memaksa.

“Makan yuk, kamu mau makan apa?” tanyanya sambil berjalan ke meja makan.

“GUK!” jawabku, sambil mengikutinya dari belakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *